ADALAH hedonisme sebagai tonggak awal matinya kritisisasi mahasiswa.
Maraknya pusat perbelanjaan yang melenakan kaum muda melalui berbagai
macam fashion serta gadget terbaru, tontonan infotainment yang menjamur,
acara hura-hura, kafe dan club sebagai tempat tongkrongan asyik masa
kini, serta produk-produk serba instan yang selalu siap meng-instankan
pemuda mahasiswa, termasuk mencetak sarjana instan dengan sistem
copy-paste nya di hampir seluruh perguruan tinggi, adalah salah satu
dampak bahwa hedonisme telah menjalar dalam setiap nalar kritis
mahasiswa.
Kampus tidak bisa
menjadikan mahasiswa cerdas, banyaknya sarjana kebingungan setelah
selesai kuliah menandakan bahwa kampus telah gagal menjadikan manusia
seutuhnya seperti tujuan pendidikan.Kampus sebagai institusi pendidikan
yang mencerdaskan bangsa tak ubahnya seperti tempat arisan. Penuh dengan
pepesan kosong atau sekedar membahas kehidupan yang borjuis.
Sudut-sudut kampus biru tidak lagi dipenuhi oleh mereka yang asyik
berdiskusi soal ilmiah atau permasalahan urgen bangsa. Hanya sedikit
mahasiswa yang masih haus akan ilmu dan kritis terhadap ketidakadilan.
Mahasiswa pun tak mampu lagi berdiri pada garda terdepan untuk
menyatakan sikap penolakannya, karena tak jarang idealisme telah terbeli
oleh manisnya kehidupan hedonis. Namun dibalik itu, ada kondisi yang
jauh lebih parah dimana kampus telah beralih fungsi sebagai kapitalis
pendidikan tempat transaksi dan pembangunan kelas, yaitu kelas yang kaya
dan kelas orang miskin sehingga bisa dipastikan orang miskin dilarang
kuliah.
Dan mahasiswa yang seharusnya haus akan ilmu
pengetahuan, berkarakter kuat, penuh dengan idealisme serta mampu
membawa aksi keberpihakan pada keadilan, kini tidak lagi menunjukkan
semangatnya. Tidak lagi mampu menunjukkan diri sebagai the agent of
social control. Justru cenderung hanya segelintir saja yang masih bisa
bertahan sebagai sejatinya mahasiswa. Namun yang sedikit ini semakin
tersingkir karena dianggap asing dan pemberontak.
Mari kita
tengok mana saja proposal kegiatan yang bisa menembus batas meja
birokrasi. Beberapa kegiatan yang memerlukan kecerdasan pola pikir lebih
sering dikesampingkan ketimbang yang penuh dengan hura-hura dan
euforia. Sekali lagi ini adalah bukti konkrit hedonisme sangat kuat
pengaruhnya di kalangan mahasiswa saat ini.
Akankah selamanya
seperti ini? Terpenjara dalam labirin kehidupan hedonis yang tak akan
pernah putus dan diperbudak oleh kapitalis serta menjunjung tinggi
nilai-nilai konsumerisme, atau segera mengambil sikap untuk kehidupan
yang lebih baik sebagai penerus bangsa. Atau hanya diam lalu membiarkan
bangsa ini berjalan penuh dengan kemunafikan??
Sumadi PS
Ketua MPO Himpunan Mahasiswa
Kabupaten Kubu Raya (HMKR).
Kampus tidak bisa menjadikan mahasiswa cerdas, banyaknya sarjana kebingungan setelah selesai kuliah menandakan bahwa kampus telah gagal menjadikan manusia seutuhnya seperti tujuan pendidikan.Kampus sebagai institusi pendidikan yang mencerdaskan bangsa tak ubahnya seperti tempat arisan. Penuh dengan pepesan kosong atau sekedar membahas kehidupan yang borjuis. Sudut-sudut kampus biru tidak lagi dipenuhi oleh mereka yang asyik berdiskusi soal ilmiah atau permasalahan urgen bangsa. Hanya sedikit mahasiswa yang masih haus akan ilmu dan kritis terhadap ketidakadilan.
Mahasiswa pun tak mampu lagi berdiri pada garda terdepan untuk menyatakan sikap penolakannya, karena tak jarang idealisme telah terbeli oleh manisnya kehidupan hedonis. Namun dibalik itu, ada kondisi yang jauh lebih parah dimana kampus telah beralih fungsi sebagai kapitalis pendidikan tempat transaksi dan pembangunan kelas, yaitu kelas yang kaya dan kelas orang miskin sehingga bisa dipastikan orang miskin dilarang kuliah.
Dan mahasiswa yang seharusnya haus akan ilmu pengetahuan, berkarakter kuat, penuh dengan idealisme serta mampu membawa aksi keberpihakan pada keadilan, kini tidak lagi menunjukkan semangatnya. Tidak lagi mampu menunjukkan diri sebagai the agent of social control. Justru cenderung hanya segelintir saja yang masih bisa bertahan sebagai sejatinya mahasiswa. Namun yang sedikit ini semakin tersingkir karena dianggap asing dan pemberontak.
Mari kita tengok mana saja proposal kegiatan yang bisa menembus batas meja birokrasi. Beberapa kegiatan yang memerlukan kecerdasan pola pikir lebih sering dikesampingkan ketimbang yang penuh dengan hura-hura dan euforia. Sekali lagi ini adalah bukti konkrit hedonisme sangat kuat pengaruhnya di kalangan mahasiswa saat ini.
Akankah selamanya seperti ini? Terpenjara dalam labirin kehidupan hedonis yang tak akan pernah putus dan diperbudak oleh kapitalis serta menjunjung tinggi nilai-nilai konsumerisme, atau segera mengambil sikap untuk kehidupan yang lebih baik sebagai penerus bangsa. Atau hanya diam lalu membiarkan bangsa ini berjalan penuh dengan kemunafikan??
Sumadi PS
Ketua MPO Himpunan Mahasiswa
Kabupaten Kubu Raya (HMKR).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar